Bagian-1. Rasional dan Konsep Pengembangan Tugas Tematik
Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Kurikulum 2013 dirancang untuk merespons perkembangan paradigma belajar abad 21, baik ciri maupun model pembelajaran (http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/). Dalam situs Kemdiknas lebih lanjut dikemukakan bahwa kebijakan pemberlakuan kurikulum 2013, selain menjawab beberapa permasalahan yang melekat pada kurikulum 2006 (KTSP), juga bertujuan mendorong peserta didik atau siswa menjadi lebih mampu melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang di peroleh atau diketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Di beberapa Negara luar, kurikulum mirip kurikulum 2013 telah diberlakukan beberapa tahun lalu, dengan versi bervariasi. Fakta-fakta yang mendorong kebijakan merumuskan dan memberlakukan kurikulum 2013 mirip dengan fakta-fakta pembelajaran di luar negeri, antara lain:
- Pembelajaran di kelas tidak atau kurang menghubungkan fakta relevan dari dunia nyata yang ada di sekitar siswa. Siswa kurang memahami hubungan konsep-konteks, kurang mampu mengidentifikasi dan mendeskripsikan fakta-fakta di sekitar berdasarkan konsep- konsep yang dipelajari dalam bidang studi di sekolah. Smith (1999) mengemukakan kritiknya terhadap pendidikan yang menyebabkan kesulitan bagi siswa menghadapi dunia nyata atau dunia kerja.
- Materi dan metode pembelajaran tidak menunjang untuk siswa dapat menerapkan konsep yang dipelajari dalam satu bidang studi ke bidang studi lain (Applebee et al. , 1989). Marzano (1991) dan Perkins (1991) ) menilai terjadinya masalah berulang kali dalam pendidikan dikarenakan bahan instruksional pembelajaran membangun keterampilan yang terisolasi (isolated skill instruction) pada masing-masing bidang studi.
- Pembelajaran kurang memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lingkungan sekitar. Sekolah menjadi pusat pembelajaran yang kurang interaktif dengan lingkungan, padahal lingkungan sekitar memiliki kekayaan materi dan sumberdaya manusia untuk mendukung pembelajaran. Pentingnya pemanfaatan sumber pembelajaran di luar sekolah antara lain dikemukakan oleh Thaiss (1986), Krogh (1990) dan Jacobs (1989) bahwa siswa yang dapat menggunakan keterampilan mengivestigasi untuk mengeksplorasi apa yang dipelajari, berinteraksi dengan anggota komunitas belajar apakah guru, atau orang lain yang ada di luar sekolah, akan lebih berhasil dibandingkan dengan siswa yang tidak diberi dorongan untuk bertanya dan melakukan share dengan orang lain. Vygotsky (1978) menekankan bahwa siswa termotivasi belajar apabila ia memiliki banyak keterampilan yang diperolehnya dari orang lain. Melalui dorongon melakukan investigasi, bertanya dan bekerja bersama, siswa dapat melihat kemanfaatan belajar melalui orang lain.
- Pembelajaran kurang variatif dan kurang mengakomodir perbedaan-perbedaan individu di kelas. Proses belajar kurang demokratis.
Respons terhadap masalah pembelajaran tersebut di Negara luar antara lain melahirkan beberapa gagasan pembelajaran, sebagai berikut:
- Pembelajaran interdisipliner adalah metode atau sekumpulan metode yang digunakan untuk mengajarkan satu unit materi pembelajaran lintas disiplin atau bidang studi. Misalnya guru bahasa, IPA, IPS dapat bekerjasama melakukan pembelajaran unit materi air. Ada banyak tipe pembelajaran interdisipliner yang telah berkembang di beberapa Negara. Ada sekolah yang mengembangkan pendekatan tim interdisipliner (interdisciplinary team approach) dimana guru beberapa bidang studi mengarahkan kelompok siswa untuk menghubungkan apa yang diajarkan (Vars, 1991). Metode paling umum dalam pelaksanaan pembelajaran interdisipliner adalah unit tematik (thematic unit), dimana sebuah tema umum dipelajari melalui beberapa bidang studi (Barton & Smith, 2000). Sebagai contoh, materi pembelajaran “air” dirancang secara multidisiplin atau paralel sebagai unit pembelajaran lintas beberapa disiplin (Jackson & Davis, 2000).
- Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran berfokus pada satu tema yang dipilih untuk mengajarkan banyak konsep. Tema pembelajaran harus terkait dengan lingkungan sekitar, dan berbasis pengalaman siswa yang berkembang dengan adanya pengaruh lingkungan. Beberapa argumentasi terkait pembelajaran tematik adalah:
- Perolehan pengetahuan akan efisien jika siswa belajar dalam konteks yang koheren, dengan cara holistik, dimana mereka dapat menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata dan lingkungan sekitarnya. Belajar tematik memungkinkan siswa menggunakan pengetahuan tentang satu konteks sebagai dasar mempelajari konteks berikutnya (Collins, Brown & Newman, 1989).
- Aktivitas belajar: dapat dikembangkan secara luas dalam bentuk berkomunikasi, memperhatikan, berpikir, mengamati, bergerak, bekerja secara perorangan atau berkelompok. Aktivitas belajar tersebut menjamin berkembangnya multiple intelligence, sebagaimana dikemukakan dalam laporan penelitian Patricia J. Stephens.
- Bahan instruksional: diarahkan untuk membangun keterampilan kognitif seperti membaca, berpikir, mengingat dan menulis dalam konteks kehidupan nyata untuk mendorong terjadinya eksplorasi pengetahuan secara kreatif (Fogatry, 1997). Instruksi tematik seperti ini membantu siswa memahami materi baru berdasarkan tema sebelumnya.
- Pengenalan karakteristik individu sangat penting dalam pendidikan tematik yang berorientasi siswa (student-oriented teaching) (Biskup, 1990). Guru atau pelaku pembelajaran perlu mengembangkan pendekatan bervariasi dalam pembelajaran tematik karena variasi kebutuhan, dan variasi pengetahuan awal atau pengalaman siswa. Peran penting guru adalah membangun iklim belajar, membangun kerjasama dimana talenta-talenta siswa dieksploitasi selama proses belajar
- Pembelajaran demokratik: berkembang sebagai upaya memahami kebutuhan, pengalaman, hambatan yang dialami anak dan mengintegrasikannya dengan instruksi pembelajaran. John Dewey (1938) yang mencanangkan sekolah demokratis, menekankan kesesuaian pendidikan dengan keinginan anak, dan dibangun berdasarkan pengalaman terdahulu. Institute for Democratic Education in America (IDEA) menekankan bahwa pendidikan demokratik adalah pendidikan yang memfasilitasi setiap orang untuk berpartisipasi dalam demokrasi yang sehat (http://www.yesmagazine.org/happiness/what-is-democratic-education). Guru menjadi fasilitator untuk membantu siswa, antara lain dalam hal: tukar pengalaman, belajar satu sama lain, melakukan kritik dan merencanakan kegiatan bersama. Dialog antara siswa, guru, administator, orangtua dan masyarakat sangat penting. Setting pembelajaran demokratik dapat bervariasi bergantung pada orang-orang yang terlibat sebagai pengajar, yakni: orangtua, guru, pegawai, dan masyarakat umum. Pembelajaran demokratik adakalanya dipandang sebagai demokratisasi dalam proses belajar.
Rasional perumusan dan kebijakan penetapan kurikulum 2013 di Indonesia mirip dengan respons dan argumentasi pembelajaran di beberapa Negara luar. Komorowska (2001) mengemukakan argumentasi tentang permasalahan yang dapat terjadi jika pembelajaran tematik dilakukan secara total, menggantikan pembelajaran bidang studi yang bersifat parsial. Pembelajaran tematik bersifat tidak sistematik, sehingga pemilihan metode dan teknik pembelajaran menjadi perhatian penting. Hubungan konsep dan proses membangun konsep dari yang sifatnya lebih dasar ke yang lebih kompleks, telah dirancang dan dibelajarkan secara sistematik dalam masng-masing bidang studi. Dalam pembelajaran tematik, konsep-konsep tersebut dipelajari dalam skema tema pembelajaran. Pembelajaran konsep dan hubungan antar konsep tidak sepenuhnya dapat dilakukan secara sistematik melalui pembelajaran tematik. Dalam pembelajaran tematik, konsep dapat bersifat lepas dari hubungan hirarkis dengan konsep dasar maupun hubungan horizontal (misalnya asosiasi model). Pembelajaran tematik secara total tidak memungkinkan siswa membangun pemahaman sistematik tentang hubungan konsep dalam masing-masing bidang studi.
Refleksi pembelajaran di Indonesia saat ini menyimpulkan: (1) pembelajaran bidang studi telah terbangun secara sistematik mulai dari jenjang pendidikan SD hingga perguruan tinggi, (2) pembelajaran bersifat parsial, kurang interaktif lintas bidang studi, (3) pembelajaran kurang mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar di luar sekolah (materi pembelajaran dan sumberdaya manusia), (4) pembelajaran kurang variatif, kurang dialektis dan kurang memperhatikan pengalaman anak. Idealnya, keunggulan sistematika pembelajaran tiap bidang studi dipertahankan, dan dilakukan: pengayaan materi pembelajaran dengan konteks (dunia nyata), pengembangan pengalaman belajar lintas bidang studi melalui tema-tema strategis, demokratisasi proses belajar dan perluasan bentuk aktivitas belajar dengan memanfaatkan sumber-sumber dari lingkungan sekitar. Proses idealisasi pembelajaran tersebut bukan tidak mungkin tapi jelas tidak mudah dilakukan. Proses idealisasi ini membutuhkan waktu transisi, untuk penyesuaian kemampuan dan pola mengajar guru, penyiapan bahan pembelajaran, sistem evaluasi dll.
Penulis mengemukakan gagasan tugas tematik sebagai pola pengayaan pembelajaran dengan materi dan kegiatan belajar memanfaatkan lingkungan sekitar. Tugas tematik adalah tugas yang dirancang bersama dan dilaksanakan secara integratif atau interaktif lintas bidang studi, melibatkan komponen pelaksana pembelajaran (guru, siswa, orangtua dan masyarakat). Materi tugas berfokus pada tema tentang lingkungan sekitar (fisik, social, budaya), isu-isu global relevan, dan konsep-konsep terkait dalam bidang studi. Konsep pengembangan tugas tematik didasarkan pada dua prinsip yakni (1) subtansi instruksi pembelajaran (tugas) berbentuk tematik, dan (2) pelaksanaan kegiatan belajar sebagai proses demokratis. Substansi tematik bertujuan untuk: (1) meningkatkan penguasaan hubungan konsep dengan konteks, (2) membangun pemahaman holistik atau interaktif konsep-konsep dari beberapa bidang studi tentang tema pembelajaran, (3) meningkatkan keterampilan sebagai penerapan penguasaan prosedural, (4) memberikan penguatan nilai-nilai (sumberdaya alam, social-budaya) melalui pemahaman hubungannya dengan konsep-konsep dalam bidang studi. Demokratisasi kegiatan belajar berkembang melalui: (1) penggalangan peran komponen-komponen yang terlibat dalam kegiatan belajar (siswa, guru, pimpinan sekolah, orangtua, tokoh masyarakat, dll), (2) eksplorasi kegiatan-kegiatan belajar kelompok/kolaboratif: membaca, menulis, berdiskusi, mengkaji referensi dari buku atau internet dan sumber lainnya, menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama dll, (3) membangun pola perencanaan, implementasi dengan pengendalian dan evaluasi program pembelajaran antar semua komponen terkait. Perencanaan bersama antara lain mengakomodir informasi dan kebutuhan masyarakat sekitar untuk dituangkan sebagai materi tugas. Pengendalian kegiatan belajar dilakukan secara terpadu oleh guru, orangtua dan masyarakat sekaligus memberikan bantuan kepada kelompok siswa. Evaluasi program pembelajaran dengan fokus tugas tematik antara lain melalui pertemuan di sekolah (school meeting) dengan menghadirkan ortangtua, masyarakat dan stakeholder lainnya.
Bagian-2. Model tugas tematik
Gambar-1 adalah model pengembangan materi tugas tematik. Komponen pengembangan materi tugas tematik meliputi komponen materi konseptual (misalnya fisika), komponen materi berupa fakta-fakta atau fenomena di lingkungan sekitar, dan bidang studi lain yang konsepnya terintegrasi atau interaktif dengan bidang studi fisika. Materi konseptual merupakan karakteristik bidang studi. Misalnya untuk bidang studi fisika, meliputi: hukum, prinsip, teori, konsep, dan prosedur. Komponen materi dari lingkungan sekitar meliputi: konteks/fakta local, isu/fenomena global berkaitan dengan fakta local, dan nilai-nilai dalam masyarakat, pola interaksi sosial, pola interaksi manusia dengan alam.
Integrasi unsur lingkungan sekitar dan fakta/fenomena umum dengan komponen konseptual dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam dua arah. Pertama, integrasi diinisialisasi dari materi konseptual ke konteks lingkungan sekitar dan fakta/fenomena/isu gobal. Kedua, integrasi diinisialiasi dari konteks lingkungan sekitar dan fakta/fenomena/isu global ke materi konseptual. Proses pembelajaran (mengerjakan tugas) dilakukan dengan kombinasi kegiatan di lapangan dan masyarakat/keluarga dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Rancangan kegiatan belajar dimungkinkan dan harus dilakukan bervariasi untuk berkembangnya multiple intelligence. Perencanaan materi tugas dan kegiatan belajar melibatkan semua pelaku pembelajaran, termasuk siswa. Pelaksanaan kegiatan belajar siswa difasilitasi dan didukung oleh guru/sekolah orangtua, masyarakat dan pelaku pembelajaran lainnya. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran seperti ini membangun proses demokratisasi belajar, dalam skema kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.
Materi tugas dalam satu bidang studi dapat diintegrasikan atau diinteraktifkan dengan bidang studi lain, bergantung pada hubungan konsep (berkaitan dengan tema) kedua bidang studi. Misalnya untuk tema energi, konsep fisika dapat diintegrasikan dengan matematika dan bahasa (Indonesia dan Inggris), tapi dengan konsep biologi dapat dirancang interaktif. Integrasi atau interaksi disain instruksional tugas tematik antar bidang studi juga bergantung pada jenjang pendidikan. Untuk jenjang pendidikan dasar (kelas 1 s/d 3) dimungkinkan integrasi konsep IPA dan IPS karena masih sederhana. Pada jenjang lebih tinggi dimana konsep bidang studi semakin mendalam dan spesifik, tugas tematik lebih bersifat interaktif.
Berbagai alternatif pengembangan instruksional melalui penugasan tematik adalah:
- Berdasarkan keterkaitan substansi interdisipliner, dapat dikembangkan dua versi instruksional yakni:
- Disain instruksi untuk dilaksanakan secara konkuren (bersamaan) antar bidang studi.
- Disain instruksi untuk dilaksanakan secara sequensial (berurutan) dimulai dari bidang studi yang satu disusul bidang studi lain.
- Berdasarkan pengembangan interaktif komponen konseptual dan kontekstual di lapangan, dapat dikembangkan dua alternatif yakni:
- Instruksi yang diinisialisasi dari pembelajaran di kelas untuk ditindaklanjuti dengan kegiatan di luar kelas. Pembelajaran di kelas dapat berupa penjelasan oleh guru tentang konsep terkait dengan tema dan kegiatan di lapangan, diskusi kelompok siswa, kajian pustaka dan membuat rangkuman konsep, mempresentasikan tugas. Pembelajaran di luar kelas dapat berbentuk observasi dan pelaporan, diskusi sesama siswa dan dengan semua orang yang terlibat dalam pembelajaran (orangtua, anggota masyarakat lainnya).
- Instruksi yang diinisialisasi dengan pengumpulan informasi dan pengisian LKS yang memuat interpretasi, rekapitulasi informasi dari luar sekolah, untuk didiskusikan atau dijelaskan kaitannya dengan bidang studi oleh guru di sekolah
- Berdasarkan variasi kelompok belajar, dapat dirancang dua bentuk kelompok belajar di luar kelas yakni:
- Kelompok dengan anggotanya berasal dari jenjang pendidikan (kelas) yang sama.
- Kelompok dengan anggotanya berasal dari jenjang pendidikan berbeda (SD – SMP – SLTA atau berbeda kelas)
Keterbatasan model tugas tematik adalah:
- Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat dikemas menjadi tugas tematik
- Tidak setiap topik atau pokok bahasan dapat dikemas menjadi tugas tematik yang melibatkan semua bidang studi
- Di wilayah tertentu, terdapat kesulitan dalam mengintegrasikan atau mengkomparasi isu-isu global atau fenomena di tempat lain yang mirip atau relevan dengan konteks lokal. Hambatan ini antara lain berkaitan dengan keterbatasan sarana TI, biaya pengadaan bahan pembelajaran elektronik dll.