Instrumen Revolusi Mental

12 Jul

INSTRUMEN REVOLUSI MENTAL

Oleh:   Chris Medellu

Universitas Negeri Manado

Ringkasan

Perilaku manusia dalam hubungan perorangan atau kelompok dapat dikategorikan atas: (1) berkorban melayani sesama tanpa pamrih, (2) melakukan layanan/jasa untuk mendapatkan imbalan sesuai ketentuan/kesepakatan, (3) tidak peduli  orang  lain tapi tidak mengganggu orang  lain, (4) melakukan tindakan merugikan orang lain untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya karena dalam kondisi terdesak, (5) melakukan kejahatan terhadap orang  lain tanpa memperoleh keuntungan untuk dirinya atau kejahatan yang telah menjadi kebiasaan. Perilaku individu dalam satu organisasi atau unit kerja dapat di record secara kuantitatif berdasarkan indicator-indikator kelima kategori perilaku.  Indicator perilaku tersebut dapat dicatat sebagai akumulasi frekwensi melakukan kegiatan atau lamanya melakukan kegiatan untuk selang waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan, triwulan,…) bergantung kebutuhan. Monev perilaku individu dapat dilakukan sendiri (self evaluation), oleh sejawat, atasan dan bawahan.  Indikator kategori perilaku tentunya bervariasi menurut bidang pekerjaan atau bidang layanan dan posisi, sesuai tugas pokok dan fungsi.  Distribusi jumlah individu dan intensitas perilaku anggota unit kerja dalam setiap kategori untuk selang waktu tertentu dapat menunjukkan perubahan perilaku individu atau kinerja organisasi/unit kerja.  Data kinerja organisasi/unit kerja dapat dipetakan dan perubahannya dapat diperlihatkan secara grafis dengan membuat software sederhana.

thematic assignmemt: basic model

13 Mar

Bagian-1. Rasional dan Konsep Pengembangan Tugas Tematik

Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi.  Kurikulum 2013 dirancang untuk merespons perkembangan paradigma belajar abad 21, baik ciri maupun model pembelajaran (http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/).  Dalam situs Kemdiknas lebih lanjut dikemukakan bahwa kebijakan pemberlakuan kurikulum 2013, selain menjawab beberapa permasalahan yang melekat pa­da kurikulum 2006 (KTSP), juga bertujuan mendorong peserta didik atau siswa menjadi lebih mampu melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengk­omunikasikan (mempresentasikan) apa yang di­ per­oleh atau diketahui setelah menerima materi pembelaj­aran.

Di beberapa Negara luar, kurikulum mirip kurikulum 2013 telah diberlakukan beberapa tahun lalu, dengan versi bervariasi.  Fakta-fakta yang mendorong kebijakan merumuskan dan memberlakukan kurikulum 2013 mirip dengan fakta-fakta pembelajaran di luar negeri, antara lain: 

  1. Pembelajaran di kelas tidak atau kurang menghubungkan fakta relevan dari dunia nyata yang ada di sekitar siswa.  Siswa kurang memahami hubungan konsep-konteks, kurang mampu mengidentifikasi dan mendeskripsikan fakta-fakta di sekitar berdasarkan konsep- konsep yang dipelajari dalam bidang studi di sekolah.  Smith (1999) mengemukakan kritiknya terhadap pendidikan yang menyebabkan kesulitan bagi siswa menghadapi dunia nyata atau dunia kerja.  
  2. Materi dan metode pembelajaran tidak menunjang untuk siswa dapat menerapkan konsep yang dipelajari dalam satu bidang studi ke bidang studi lain (Applebee et al. , 1989).  Marzano (1991) dan Perkins (1991) ) menilai terjadinya masalah berulang kali dalam pendidikan dikarenakan bahan instruksional pembelajaran membangun keterampilan yang terisolasi (isolated skill instruction) pada masing-masing bidang studi. 
  3. Pembelajaran kurang memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lingkungan sekitar.  Sekolah menjadi pusat pembelajaran yang kurang interaktif dengan lingkungan, padahal lingkungan sekitar memiliki kekayaan materi dan sumberdaya manusia untuk mendukung pembelajaran.  Pentingnya pemanfaatan sumber pembelajaran di luar sekolah antara lain dikemukakan oleh Thaiss (1986), Krogh (1990) dan Jacobs (1989) bahwa siswa yang dapat menggunakan keterampilan mengivestigasi untuk mengeksplorasi apa yang dipelajari, berinteraksi dengan anggota komunitas belajar apakah guru, atau orang lain yang ada di luar sekolah, akan lebih berhasil  dibandingkan dengan siswa yang tidak diberi dorongan untuk bertanya dan melakukan share dengan orang lain.  Vygotsky (1978) menekankan bahwa siswa termotivasi belajar apabila ia memiliki banyak keterampilan yang diperolehnya dari orang lain.  Melalui dorongon melakukan investigasi, bertanya dan bekerja bersama, siswa dapat melihat kemanfaatan belajar melalui orang lain.  
    1. Pembelajaran kurang variatif dan kurang mengakomodir perbedaan-perbedaan individu di kelas.  Proses belajar kurang demokratis.

Respons terhadap masalah pembelajaran tersebut di Negara luar antara lain melahirkan beberapa gagasan pembelajaran, sebagai berikut:

  1. Pembelajaran interdisipliner adalah metode atau sekumpulan metode yang digunakan untuk mengajarkan satu unit materi pembelajaran lintas disiplin atau bidang studi.  Misalnya guru bahasa, IPA, IPS dapat bekerjasama melakukan pembelajaran unit materi air.  Ada banyak tipe pembelajaran interdisipliner yang telah berkembang di beberapa Negara.  Ada sekolah yang mengembangkan pendekatan tim interdisipliner (interdisciplinary team approach) dimana guru beberapa bidang studi mengarahkan kelompok siswa untuk menghubungkan apa yang diajarkan (Vars, 1991).  Metode paling umum dalam pelaksanaan pembelajaran interdisipliner adalah unit tematik (thematic unit), dimana sebuah tema umum dipelajari melalui beberapa bidang studi  (Barton & Smith, 2000).  Sebagai contoh, materi pembelajaran “air” dirancang secara multidisiplin atau paralel sebagai unit pembelajaran lintas beberapa disiplin  (Jackson & Davis, 2000).
  2. Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran berfokus pada satu tema yang dipilih untuk mengajarkan banyak konsep.  Tema pembelajaran  harus terkait dengan lingkungan sekitar, dan berbasis pengalaman siswa yang berkembang dengan adanya pengaruh lingkungan.  Beberapa argumentasi terkait pembelajaran tematik adalah:
    1. Perolehan pengetahuan akan efisien jika siswa belajar dalam konteks yang koheren, dengan cara holistik, dimana mereka dapat menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata dan lingkungan sekitarnya.  Belajar tematik memungkinkan siswa menggunakan pengetahuan tentang satu konteks sebagai dasar mempelajari konteks berikutnya (Collins, Brown & Newman, 1989).
    2. Aktivitas belajar: dapat dikembangkan secara luas dalam bentuk berkomunikasi, memperhatikan, berpikir, mengamati, bergerak, bekerja secara perorangan atau berkelompok.  Aktivitas belajar tersebut menjamin berkembangnya multiple intelligence, sebagaimana dikemukakan dalam laporan penelitian Patricia J. Stephens.
    3. Bahan instruksional: diarahkan untuk membangun keterampilan kognitif seperti membaca, berpikir, mengingat dan menulis dalam konteks kehidupan nyata untuk mendorong terjadinya eksplorasi pengetahuan secara kreatif (Fogatry, 1997). Instruksi tematik seperti ini membantu siswa memahami materi baru berdasarkan tema sebelumnya.
    4. Pengenalan karakteristik individu sangat penting dalam pendidikan tematik yang berorientasi siswa (student-oriented teaching) (Biskup, 1990).  Guru atau pelaku pembelajaran perlu mengembangkan pendekatan bervariasi dalam pembelajaran tematik karena variasi kebutuhan, dan variasi pengetahuan awal atau pengalaman siswa.  Peran penting guru adalah membangun iklim belajar, membangun kerjasama dimana talenta-talenta siswa dieksploitasi selama proses belajar
  3. Pembelajaran demokratik: berkembang sebagai upaya memahami kebutuhan, pengalaman, hambatan yang dialami anak dan mengintegrasikannya dengan instruksi pembelajaran.  John Dewey (1938) yang mencanangkan sekolah demokratis, menekankan kesesuaian pendidikan dengan keinginan anak, dan dibangun berdasarkan pengalaman terdahulu.   Institute for Democratic Education in America (IDEA) menekankan bahwa pendidikan demokratik adalah pendidikan yang memfasilitasi setiap orang untuk berpartisipasi dalam demokrasi yang sehat (http://www.yesmagazine.org/happiness/what-is-democratic-education). Guru menjadi fasilitator untuk membantu siswa, antara  lain dalam hal: tukar pengalaman, belajar satu sama lain, melakukan kritik dan merencanakan kegiatan bersama.  Dialog antara siswa, guru, administator, orangtua dan masyarakat sangat penting.   Setting pembelajaran demokratik dapat bervariasi bergantung pada orang-orang yang terlibat sebagai pengajar, yakni: orangtua, guru, pegawai, dan masyarakat  umum.  Pembelajaran demokratik adakalanya dipandang sebagai demokratisasi dalam proses belajar.

Rasional perumusan dan kebijakan penetapan kurikulum 2013 di Indonesia mirip dengan respons dan argumentasi pembelajaran di beberapa Negara luar.  Komorowska (2001) mengemukakan argumentasi tentang permasalahan yang dapat terjadi jika pembelajaran tematik dilakukan secara total, menggantikan pembelajaran bidang studi yang bersifat parsial. Pembelajaran tematik bersifat tidak sistematik, sehingga pemilihan metode dan teknik pembelajaran menjadi perhatian penting.  Hubungan konsep dan proses membangun konsep dari yang sifatnya lebih dasar ke yang lebih kompleks, telah dirancang dan dibelajarkan secara sistematik dalam masng-masing bidang studi.   Dalam pembelajaran tematik, konsep-konsep tersebut dipelajari dalam skema tema pembelajaran.  Pembelajaran konsep dan hubungan antar konsep tidak sepenuhnya dapat dilakukan secara sistematik melalui pembelajaran tematik.  Dalam pembelajaran tematik, konsep dapat bersifat lepas dari hubungan hirarkis dengan konsep dasar maupun hubungan horizontal (misalnya asosiasi model).  Pembelajaran tematik secara total tidak memungkinkan siswa membangun pemahaman sistematik tentang hubungan konsep dalam masing-masing bidang studi.

Refleksi pembelajaran di Indonesia saat ini menyimpulkan: (1) pembelajaran bidang studi telah terbangun secara sistematik mulai dari jenjang pendidikan SD hingga perguruan tinggi, (2) pembelajaran bersifat parsial, kurang interaktif lintas bidang studi, (3) pembelajaran kurang mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar di luar sekolah (materi pembelajaran dan sumberdaya manusia), (4) pembelajaran kurang variatif, kurang dialektis dan kurang memperhatikan pengalaman anak.  Idealnya, keunggulan sistematika pembelajaran tiap bidang studi dipertahankan, dan dilakukan: pengayaan materi pembelajaran dengan konteks (dunia nyata), pengembangan pengalaman belajar lintas bidang studi melalui tema-tema strategis, demokratisasi proses belajar dan perluasan bentuk aktivitas belajar dengan memanfaatkan sumber-sumber dari lingkungan sekitar.  Proses idealisasi pembelajaran tersebut bukan tidak mungkin tapi jelas tidak mudah dilakukan.  Proses idealisasi ini membutuhkan waktu transisi, untuk penyesuaian kemampuan dan pola mengajar guru, penyiapan bahan pembelajaran, sistem evaluasi dll.

Penulis mengemukakan gagasan tugas tematik sebagai pola pengayaan pembelajaran dengan materi dan kegiatan belajar memanfaatkan lingkungan sekitar.  Tugas tematik adalah tugas yang dirancang  bersama dan dilaksanakan secara integratif atau interaktif lintas bidang studi, melibatkan komponen pelaksana pembelajaran (guru, siswa, orangtua dan masyarakat).  Materi tugas berfokus pada tema tentang lingkungan sekitar (fisik, social, budaya), isu-isu global relevan, dan konsep-konsep terkait dalam bidang studi.  Konsep pengembangan tugas tematik didasarkan pada dua prinsip yakni (1) subtansi instruksi pembelajaran (tugas) berbentuk tematik, dan (2) pelaksanaan kegiatan belajar sebagai proses demokratis.  Substansi tematik bertujuan untuk: (1) meningkatkan penguasaan hubungan konsep dengan konteks, (2) membangun pemahaman holistik atau interaktif konsep-konsep dari beberapa bidang studi tentang tema pembelajaran, (3) meningkatkan keterampilan sebagai penerapan penguasaan prosedural, (4) memberikan penguatan nilai-nilai (sumberdaya alam, social-budaya) melalui pemahaman hubungannya dengan konsep-konsep dalam bidang studi. Demokratisasi kegiatan belajar berkembang melalui: (1) penggalangan peran komponen-komponen yang terlibat dalam kegiatan belajar (siswa, guru, pimpinan sekolah, orangtua, tokoh masyarakat, dll), (2) eksplorasi kegiatan-kegiatan belajar kelompok/kolaboratif: membaca, menulis, berdiskusi, mengkaji referensi dari buku atau internet dan sumber lainnya, menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama dll, (3) membangun pola perencanaan, implementasi dengan pengendalian dan evaluasi program pembelajaran antar semua komponen terkait.  Perencanaan bersama antara lain mengakomodir informasi dan kebutuhan masyarakat sekitar untuk dituangkan sebagai materi tugas.  Pengendalian kegiatan belajar dilakukan secara terpadu oleh guru, orangtua dan masyarakat sekaligus memberikan bantuan kepada kelompok siswa.  Evaluasi program pembelajaran dengan fokus tugas tematik antara lain melalui pertemuan di sekolah (school meeting) dengan menghadirkan ortangtua, masyarakat dan stakeholder lainnya. 

 

Bagian-2.  Model tugas tematik

 

Gambar-1 adalah model pengembangan materi tugas tematik.  Komponen pengembangan materi tugas tematik meliputi komponen materi konseptual (misalnya fisika), komponen materi berupa fakta-fakta atau fenomena di lingkungan sekitar, dan bidang studi lain yang konsepnya terintegrasi atau interaktif dengan bidang studi fisika.  Materi konseptual merupakan karakteristik bidang studi.  Misalnya untuk bidang studi fisika, meliputi:  hukum, prinsip, teori, konsep, dan prosedur.  Komponen materi dari lingkungan sekitar meliputi: konteks/fakta local, isu/fenomena global berkaitan dengan fakta local, dan nilai-nilai dalam masyarakat, pola interaksi sosial, pola interaksi manusia dengan alam. 

Integrasi unsur lingkungan sekitar dan fakta/fenomena umum dengan komponen konseptual dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam dua arah.  Pertama, integrasi diinisialisasi dari materi konseptual ke konteks lingkungan sekitar dan fakta/fenomena/isu gobal.  Kedua, integrasi diinisialiasi  dari konteks lingkungan sekitar dan fakta/fenomena/isu global ke materi konseptual.  Proses pembelajaran (mengerjakan tugas) dilakukan dengan kombinasi kegiatan di lapangan dan masyarakat/keluarga dengan kegiatan pembelajaran di kelas.  Rancangan kegiatan belajar dimungkinkan dan harus dilakukan bervariasi untuk berkembangnya multiple intelligence.  Perencanaan materi tugas dan kegiatan belajar melibatkan semua pelaku pembelajaran, termasuk siswa.    Pelaksanaan kegiatan belajar siswa difasilitasi dan didukung oleh guru/sekolah orangtua, masyarakat dan pelaku pembelajaran lainnya.  Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran seperti ini membangun proses demokratisasi belajar, dalam skema kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. 

Materi tugas dalam satu bidang studi dapat diintegrasikan atau diinteraktifkan dengan bidang studi lain, bergantung pada hubungan konsep (berkaitan dengan tema) kedua bidang studi.  Misalnya untuk tema energi, konsep fisika dapat diintegrasikan dengan matematika dan bahasa (Indonesia dan Inggris), tapi dengan konsep biologi dapat dirancang interaktif.  Integrasi atau interaksi disain instruksional tugas tematik antar bidang studi juga bergantung pada jenjang pendidikan.  Untuk jenjang pendidikan dasar (kelas 1 s/d 3) dimungkinkan integrasi konsep IPA dan IPS karena masih sederhana.  Pada jenjang lebih tinggi dimana konsep bidang studi semakin mendalam dan spesifik, tugas tematik lebih bersifat interaktif.

Berbagai alternatif pengembangan instruksional melalui penugasan tematik adalah:

  1. Berdasarkan keterkaitan substansi interdisipliner, dapat dikembangkan dua versi instruksional yakni:
    1. Disain instruksi untuk dilaksanakan secara konkuren (bersamaan) antar bidang studi.
    2. Disain instruksi untuk dilaksanakan secara sequensial (berurutan) dimulai dari bidang studi yang satu disusul bidang studi lain. 
  2. Berdasarkan pengembangan interaktif komponen konseptual dan kontekstual di lapangan, dapat dikembangkan dua alternatif yakni:
    1. Instruksi yang diinisialisasi dari pembelajaran di kelas untuk ditindaklanjuti dengan kegiatan di luar kelas.  Pembelajaran di kelas dapat berupa penjelasan oleh guru tentang konsep terkait dengan tema dan kegiatan di lapangan, diskusi kelompok siswa, kajian pustaka dan membuat rangkuman konsep, mempresentasikan tugas.  Pembelajaran di luar kelas dapat berbentuk observasi dan pelaporan,  diskusi sesama siswa dan dengan semua orang yang terlibat dalam pembelajaran (orangtua, anggota masyarakat lainnya).
    2. Instruksi yang diinisialisasi dengan pengumpulan informasi dan pengisian LKS yang memuat interpretasi, rekapitulasi informasi dari luar sekolah, untuk didiskusikan atau dijelaskan kaitannya dengan bidang studi oleh guru di sekolah
  3. Berdasarkan variasi kelompok belajar, dapat dirancang dua bentuk kelompok belajar di luar kelas yakni:
    1. Kelompok dengan anggotanya berasal dari jenjang pendidikan (kelas) yang sama.
    2. Kelompok dengan anggotanya berasal dari jenjang pendidikan berbeda (SD – SMP – SLTA atau berbeda kelas)

Keterbatasan model tugas tematik adalah:

  1. Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat dikemas menjadi tugas tematik
  2. Tidak setiap topik atau pokok bahasan dapat dikemas menjadi tugas tematik yang melibatkan semua bidang studi
  3. Di wilayah tertentu, terdapat kesulitan dalam mengintegrasikan atau mengkomparasi isu-isu global atau fenomena di tempat lain yang mirip atau relevan dengan konteks lokal.  Hambatan ini antara lain berkaitan dengan keterbatasan sarana TI, biaya pengadaan bahan pembelajaran elektronik dll.

thematic assignment model-5

13 Mar

judul:     Model Optimalisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pembelajaran Sains Tematik di Wilayah Pesisir dan Pegunungan di Kabupaten Sangihe

Rasional

  • Pemerintah telah merumuskan dan menetapkan pemberlakuan kurikulum baru pada tahun 2013.  Kurikulum baru memiliki ciri khusus yakni pembelajaran tematik.  Pemberlakuan kurikulum baru memunculkan tantangan bagi guru, terutama dalam mendisain materi pembelajaran tematik.
  • Ide dasar pembelajaran tematik adalah siswa mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman dan obyek yang dapat diamati/dialami langsung dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tematik pada dasarnya meruoakan penegasan dari pembelajaran kontekstual yang tidak terlaksana secara maksimal.  Pembelajaran tematik sains adalah pembelajaran yang berfokus pada tema-tema yang dirumuskan dari obyek-obyek pembelajaran sains yang ada di lingkungan sekitar dan yang dapat diakses oleh siswa sehingga memungkinkan pemahaman/penguasaan hubungan antara konsep dengan fakta dan fenomena sains.
  • Pembelajaran tematik memberi peluang untuk mengoptimalkan sumber-sumber belajar dari lingkungan sekitar. Sumber belajar dari lingkungan sekitar dapat berupa materi pembelajaran (obyek-obyek sains: fakta, fenomena, peristiwa bio-fisis, sosio kultural masyarakat) maupun peran masyarakat dan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan di luar sekolah.  Pengembangan pembelajaran tematik akan maksimal mendorong penyelenggaraan kegiatan belajar apabila terjadi interaksi produktif antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat.  Pemahaman karakteristik lingkungan bio-fisik dan sosiokultural masyarakat sangat penting untuk perancangan materi pembelajaran tematik sekaligus untuk menggalang partisipasi keluarga dan masyarakat dalam pembelajaran tematik
  • Model pengelolaan sekolah yang didukung masyarakat sangat dibutuhkan dalam perancangan dan implementasi pembelajaran tematik.  Rancangan materi pembelajaran komprehensif meliputi konsep, dan konteks bio-fisik dan sosio-kultural memungkinkan penguatan unsur kognitif, psikomotor, dan afektif.  Selama ini, hanya unsur kognitif yang dapat berkembang melalui pembelajaran di kelas. Nilai-nilai sains yang berkaitan dengan nilai-nilai sosio-kultural sangat potensial berkembang melalui aktivitas belajar di luar kelas dengan partisipasi orangtua dan masyarakat.  Kegiatan pengamatan dan pemanfaatan aktivitas “bekerja dan bermain sambil belajar”) sangat mungkin dikembangkan melalui pembelajaran tematik di luar kelas dengan partisipasi masyarakat dan interaksi kelompok siswa.  Model manajemen kegiatan belajar perlu dirumuskan untuk pengembangan kegiatan pembelajaran tematik secara interaktif di sekolah dan di luar sekolah.  Unsur-unsur utama dalam perumusan model manajamen kegiatan belajar interaktif adalah:
    • Ø Kebijakan penyelenggaraan program pembelajaran dengan melibatkan partisipasi masyarakat (perencanaan program, impelemntasi, evaluasi dan pemantauan program)
    • Ø Kapasitas guru dalam merancang pembelajaran tematik serta merancang skenario pembelajaran dengan partisipasi
    • Ø Potensi orangtua dan masyarakat (pendidikan, pengalaman, ketersediaan waktu, adanya wadah/organisasi masyarakat, ketersediaan sarana dan fasilitas relevan dengan tema pembelajaran, dll).
    • Ø Interaksi  sekolah dan masyarakat yang telah terbangun selama ini.
    • Ø Ketersediaan sarana dan fasilitas perolehan informasi global atau regional sebagai bahan pembanding/pengayaan materi pembelajaran tematik.
  • Indikator-indikator tingkat partisipasi masyarakat dalam pembelajaran sains antara lain:
    • Ø Banyaknya individu atau kelompok (elemen) masyarakat yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah dan di luar sekolah
    • Ø Bentuk aktivitas partisipasi masyarakat dan keluarga dalam pembelajaran di dalam dan di luar sekolah
    • Ø Banyaknya gagasan tematik yang diangkat atau diusulkan oleh masyarakat kepada guru/sekolah
    • Ø Banyaknya tema yang diinisialisasi orantua/masyarakat dalam kegiatan belajar siswa di luar sekolah
    • Ø Banyaknya keluarga/anggota masyarakat yang bersedia untuk pemanfaatan fasilitas pribadi bagi kegiatan belajar siswa, sesuai tema/pokok bahasan
    • Ø Banyaknya individu (anggota masyarakat) yang secara rutin melakukan pemantauan dan penilaian, serta masukan kegiatan pembelajaran di sekolah dan di luar sekolah
    • Ø Penerimaan orangtua/masyarakat terhadap keputusan penilaian belajar siswa.

 

  • Kinerja pembelajaran yang dapat menunjukkan kontribusi partisipasi masyarakat antara lain:
    • Ø Produktivitas belajar siswa di sekolah dan di luar sekolah (banyaknya kegiatan (frekwensi dan waktu belajar), banyaknya laporan kegiatan (individu dan kelompok)
    • Ø Peningkatan penguasaan hubungan konsep dengan konteks yang ada di lingkungan sekitar (bio-fisis dan sosio-kultural)
    • Ø Peningkatan afeksi siswa terhadap nilai-nilai sosio kultural dan keterkaitannya dengan nilai-nilai sains
    • Ø Inisiatif belajar dari siswa, untuk melakukan kegiatan belajar mandiri
    • Ø Frekwensi pelaksanaan diskusi dengan keluarga dan masyarakat atas inisiatif kelompok siswa.

thematic assignment model 4

13 Mar

Judul:  Model Optimalisasi Partisipasi Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah di wilayah pesisir kabupaten Sangihe

Rasional

  • Penyaluran dana langsung ke sekolah dan pengelolaan dana secara mandiri oleh sekolah merupakan salah satu bentuk manajemen pendidikan berbasis sekolah.  Ini ini diharapkan dapat menumbuhkan dan mendorong inisiatif pendanaan dan bentuk partisipasi lainnya dari masyarakat untuk pengelolaan dan pelaksanaan aktivitas pembelajaran di sekolah
  • Kenyataannya banyak permasalahan yang muncul dalam pengelolaan dana BOS dan dana bantuan langsung dari pemerintah di tingkat sekolah.  Penyalah gunaan dana terjadi di banyak sekolah.  Pada kebanyakan sekolah, dana yang disalurkan langsung oleh pemerintah belum signifikan menunjukkan peningkatan produktivitas dan kinerja penyelenggaraan pendidikan.  Dana bantuan yang diperoleh, cenderung hanya untuk (pembayaran SPP?) sehingga belum mengkontribusi peningkatan kinerja penyelenggaraan pendidikan (produktivitas dan mutu).
  • Manajemen pendidikan berbasis sekolah memberikan akses langsung dan secara luas bagi stakeholder (khususnya orangtua siswa dan masyarakat) untuk terlibat aktif dalam penyelenggaraan sekolah secara menyeluruh.  Masyarakat tidak sekedar memantau penyaluran dan pengelolaan dana yang disalurkan pemerintah tapi hendaknya terlibat aktif dalam seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah.  Masyarakat harus berpartisipasi dalam proses pembelajaran dll., sehingga kegiatan belajar di kelas dan di luar kelas dapat bertumbuh secara interaktif.  Masyarakat juga perlu terlibat dalam perencanaan program sekolah, mengevaluasi program dan melakukan inisiatif-inisiatif untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan sekolah (pendaan, fasilitas dll).
  • Mengoptimalkan peran stakeholder (masyarakat) dalam penyelenggaraan pendidikan di wilayah “terpencil (pesisir dan pedalaman)” memiliki dimensipermasalahan khas.  Faktor tingkat pendidikan, ekonomi/pendapatan keluarga, akses pendidikan dan komunikasi/ informasi, ketersediaan waktu, kultur dan historis masyrarakat, dll diduga merupakan faktor potensial menentukan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.  Faktor-faktor tersebut dapat diukur atau dievaluasi melalui indikator-indikator seperti: angka partisipasi pendidikan, kesediaan menerima hasil evaluasi pendidikan anak (kenaikan kelas, kelulusan), kesediaan pendanaan, kesediaan memberi masukan, tingkat keterlibatan dalam pembangunan sekolah, partisipasi orangtua dalam proses pembelajaran di rumah, dll.
  •  Penelitian ini mengevaluasi kinerja penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh (manajemen, proses pembelajaran, kondisi guru, ketersediaan sarana dan fasilitas) dikaitkan dengan indiaktor-indikator partisipasi masyarakat, dan selanjutnya mengalisis faktor-faktor internal dan eksternal sekolah yang menentukan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sekolah.  Penelitian dilakukan pada beberapa sekolah di wilayah pesisir (“dinilai terpencil’) di Kabupaten Sangihe untuk mendapatkan pola dan bentuk-bentuk partisipasi masyarakat.  Bentuk dan pola partisipasi tersebut digunakan untuk mengembangkan model partisipasi masyarakat untuk selanjutnya diujikan pada sekolah- sekolah yang bersangkutan.  Secara skematis kerangka konsep penelitian digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

Tahap 1.  Identifikasi bentuk dan pola partisipasi masyarakat

Masyarakat (faktor-faktor potensial menentukan partisipasi masyarajat)

Sekolah: manajemen, kemampuan pendanaan, kondisi sarana dan fasilitas, kondisi guru dll

Indikator-indikator partisipasi masyarakat

Tahap-2.  Analisis komparatif (beberapa sekolah) untuk perumusan pola dan bentuk partisipasi masyarakat yang potensial (positip) dalam membangun partisipasi masyarakat

Model optimalisasi partisipasi masyarakat dalam manajemen sekolah

Tahap-3. 

  • Penerapan model paritisipasi di beberapa sekolah
  • Evaluasi berdasarkan indikator partisipasi
  • Potensi dan keterbatasan model
  • Rekomendasi penerapan model
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Model analisis data yang digunakan adalah SEM (Structural Equation Model) atau yang lebih sederhana: analisis jalur (path analysis)

 

thematic assignment model-3

13 Mar

Judul :  Model manajemen perkuliahan berbasis tugas tematik berjenjang di Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA Unima

Rasional

  • Pendidikan adalah sebuah proses demokratik ke arah pembentukan kompetensi mahasiswa.  Pendidikan demokratik hendaknya mewujudkan beberapa prinsip dasar antara lain:
  • Ø Melibatkan mahasiswa dalam merencakan skenario pembelajaran, mengacu pada tujuan dan rumusan kompetensi
  • Ø Mahasiswa mendapatkan arahan pada awal perkuliahan mengenai kompetensi dan proses pencapaian kompetensi
  • Ø Kesediaan dosen atau tim pengajar untuk konsultasi mahasiswa di luar jadwal perkuliahan
  • Ø Refleksi pelaksanaan perkuliahan didasarkan pada hasil monev perkuliahan yang dibahas oleh tim dosen dan mahasiswa
  • Ø Jaminan untuk memanfaatkan fasilitas perkuliahan yang tersedia di program studi/ jurusan/fakultas, sesuai rancangan perkuliahan
    • Pelaksanaan perkuliahan selama ini tidak melibatkan mahasiswa dalam perencanaan skenario pembelajaran.  Perkuliahan umumnya tidak memberikan arahan memadai tentang konpetensi, skenario perkuliahan, fasilitas  dan pemanfaatannya.  Tidak banyak dosen yang menyiapkan waktu khusus untuk layanan konsultansi bagi mahasiswa.  Refleksi pelaksanaan perkuliahan yang melibatkan mahasiswa belum dilakukan oleh tim dosen
    • Perkuliahan berbasis tugas berjenjang adalah rancangan perkuliahan dengan materi tugas utama secara kerkesinambungan dari semester – kesemester.  Rancangan tugas berjenjang dari semester ke semester mengikuti tahapan sebagai berikut:

1)  merumuskan konsep dan tema fisika (lingkungan sekitar),

2)  merumuskan alternatif model pembelajaran yang relevan dengan karakteristik materi yang dirumuskan pada tahap 1)

3)  merumuskan skenario pembelajaran, sesuai karakarakteristik materi (tahap 1) dan alternatif model pembelajaran (tahap 2)

4)  Merumuskan materi evaluasi pembelajaran (proses dan capaian/kinerja), sesuai karakterustik materi (tahap 1), pilihan metode pembelajaran (tahap 2), dan skenario pembelajaran (tahap 3)

5)  Merumuskan pilihan media pembelajaran dan pendekatan pembelajaran (berbasis aktivitas di kelas, di laboratorium, di lapangan)

6)  Merancang kegiatan penelitian pembelajaran dengan materi pembelajaran yang dikembangkan melalui tahapan 1) s/d 5).

7)  Melaksanakan penelitian sebagai penelitian skripsi dan menyusun laporan skripsi

Perkuliahan berbasis tugas berjenjang dirancang oleh dosen jurusan fisika FMIPA Unima tahun 2003, dan disepakati sebagai model perkuliahan di program studi penddikan fisika.  Penerapan model memperoleh penguatan melalui program I-MHERE tahun 2009-2011, karena model ini diterima dan ditetapkan sebagai bentuk kegiatan program I-MHERE pada tiga program studi: pendidikan fisika, pendidikan kimia, dan pendidikan matematika

  • Kenyataanya, perkuliahan berbasis tugas berjenjang pada ketiga program studi tersebut tidak berjalan dan berkembang sesuai rancangan.  Beberapa hasil penelitian pengembangan (Research and Development) yang dilakukan beberapa mahasiswa program studi pendidikan fisika, menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengembangkan penelitian melalui tahapan-tahapan seperti di atas, kendatipun tidak melalui  tahapan perkuliahan seperti dalam rancangan.  Mahasiswa yang melakukan penelitian pengembangan mengikuti tahapan materi tersebut dapat menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun atau kurang dari empat tahun.  
  • Perkuliahan demokratik berbasis tugas tematik berjenjang memiliki potensi untuk mendorong aktivitas mahasiswa menjadi produktif pada setiap jenjang tugas, dan mendorong tim pengajar untuk melaksanakan fungsi pengajaran dan pembimbingan secara maksimal.  Prinsip-prinsip pembelajaran demokratik tersebut di atas mendorong interaksi mahasiswa dan tim dosen, sehingga potensial untuk keberhasilan penerapan rancangan perkuliahan berbasis tugas berjenjang.  Pengalaman merancang dan melaksanakan pembelajaran tematik melalui tugas berjenjang menjadikan lulusan siap dan mampu menghadapi tantangan pemberlakuan kurikulum 2013.  Model manajemen perkuliahan berbasis tugas tematik berjenjang dikembangkan berdasarkan evaluasi kebijakan, potensi dan kendala perkuiahan, monev perkuliahan, sikap dan kesediaan dosen, partisipasi mahasiswa mulai dari perencanaan perkuliahan hingga refleksi perkuliahan, dll.  Model dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran demokratik dan rancangan perkuliahan tematik, dengan rumusan tahapan kompetensi pada setiap jenjang.  Model manajemen perkuliahan  yang dikembangkan melalui perkuliahan berbasis tugas berjenjang dapat menjadi acuan pengembangan perkuliahan demokratik berbasis kompetensi

 

Tahapan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran berbasis tugas tematik berjenjang:

 

Tahap 1)

  • melakukan kritik terhadap materi pembelajaran dalam buku-buku pembelajaran fisika
  • merumuskan dan melakukan pengayaan materi pembelajaran, memanfaatkan beberapa buku sumber
  • menentukan karakteristik materi pembelajaran fisika, serta menjabarkannya dalam konsep, teori/hukum, prinsip, prosedur, fakta (umum), dan fakta lokal   

 

Tahap 2):

  • menentukan metode pembelajaran fisika yang relevan dengan karakteristik materi pokok bahasan/sub pokok bahasan
  • mengevaluasi (potensi) keunggulan dan kelemahan pilihan metode dalam proses pembelajaran

 

Tahap 3)

  • merancang skenario pembelajaran berdasarkan karakteristik materi, pilihan metode dan pendekatan pembelajaran, kondisi mahasiswa, dan fasilitas pembelajaran

 

Tahap 4) :

  • merumuskan materi evaluasi capaian sesuai kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari pokok bahasan
  • merumuskan materi evaluasi proses dan kinerja untuk setiap tahapan pembelajaran sesuai karakteristik materi, pilihan metode dan skenario pembelajaran

 

Tahap 5):

  • mendisain pendekatan pembelajaran berbasis kelas atau laboratoris atau lapangan, atau kombinasinya sesuai  materi dan proses pembelajaran memanfaatkan sumber-sumber dari lingkungan eksternal (internet, media massa) maupun lokal (lingkungan fisik, sopsial budaya) dan kombinasi sumber internal dan eksternal

 

Tahap 6) :

  • merancang penelitian penerapan paket pembelajaran yang dibuat sendiri mengacu pada tahapan rancangan pembelajaran
  • kemampuan berinteraksi akademik melalui forum seminar (merancang materi presentasi, menyampaikan gagasan penelitian, mendengar dan merespons masukan/kritik)

 

Tahap 7) :

  • penguasaan kelas dan peserta didik dalam proses pembelajaran melakukan pembelajaran dengan paket pembelajaran yang dirancang sendiri,  melakukan evaluasi proses dan capaian pembelajaran serta koreksi untuk penyempurnaan paket pembelajaran
  • mengembangkan interaksi belajar sesuai skenario pembelajaran
  • melakukan interaksi sosial dan akademik dengan sesama guru di sekolah
  • melaksanakan penelitian pembelajaran dan mengevaluasi hasil penerapan paket pembelajaran

 

thematic assignment model-2

11 Mar

Judul:  Model Manajemen Belajar Interaktif di Luar Kelas antar Siswa dengan Jenjang Pendidikan Berbeda

Latar Belakang

Pemberlakuan kurikulum 2013 dimulai bulan Juli 2013.  Kurikulum 2013 dikembangkan dari kurikulum 2006 yang dkenal sebagai KTSP, dengan tujuan menjawab beberapa permasalahan yang melekat pa­da kurikulum 2006, juga bertujuan mendorong peserta didik meningkatkan kemampuan melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengk­omunikasikan (mempresentasikan) apa yang di­ per­oleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelajaran.  Karakteristik khusus materi pembelajaran yang potensial menjawab tantangan pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tematik.  Pembelajaran tematik menekankan pentingnya hubungan antara pengalaman siswa dengan materi yang akan dibelajarkan.  Guru perlu mengetahui bagaimana siswa mempelajari apa yang telah ia ketahui dan apa yang diinginya untuk dipelajari lebih lanjut.  Pemanfaatan sumber belajar harus dioptimalkan sehingga setiap siswa dapat berkomunikasi, memperhatikan, berpikir, menonton, bergerak dan bekerja dalam kelompok atau secara individu. 

Pembelajaran tematik menekankan pentingnya belajar kolaboratif (collaborative learning). Belajar kolaboratif dapat dikembangkan untuk kelompok siswa dari jenjang pendidikan yang sama (kelas yang sama) atau dari kelas berbeda, bahkan antara siswa SD, SMP, dan SLTA.  Kolaborasi dimungkinkan karena siswa dari satu wilayah dengan lingkungan fisik dan sosial-budaya yang sama, memiliki pengalaman yang sama namun dapat berbeda dalam persepsi atau respons; perbedaan ini menarik dikomunikasikan dalam kelompok belajar.  Demikian halnya, perbedaan informasi yang diperoleh melalui media massa (TV, radio, koran), dan internet menjadi informasi-informasi menarik sebagai bahan pembelajaran dalam kelompok.

Perbedaan kedalaman penguasaan konsep antara siswa dari jenjang berbeda yang diintegrasikan dengan konteks-konteks dalam tema pembelajaran akan menjadi kekayaan materi interaksi siswa dari jenjang pendidikan berbeda.  Siswa dari jenjang pendidikan lebih tinggi, memiliki kebanggaan dan kepuasan jika dapat mengkomunikasikan penguasaan atas tema pembelajaran kepada siswa dari jenjang pendidikan lebih rendah.  Siswa dari jenjang lebih rendah dapat memanfaatkan siswa dari jenjang lebih tinggi sebagai “pengajar”.  Manajemen interaksi belajar kelompok antar siswa dari jenjang berbeda potensial dikembangkan dalam pembelajaran tematik. Model manajemen tugas tematik untuk interaksi kelompok siswa dari jenjang berbeda dapat dikembangkan pada satu wilayah dimana terdapat SD, SMP, dan SMA.  Model tugas tematik untuk kelompok siswa dari jenjang berbeda dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembelajaran  integrative dan bi  dang studi dan     tugas tematik di sekolah (SD)

Pembelajaran bidang studi dan tugas tematik di sekolah (SMP)

 

Pembelajaran bidang studi dan tugas tematik di sekolah (SMA)

 

Interaksi belajar kelompok tugas tematik di luar kelas: SD, SMP, SMA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Konsep Penelitian

Pembelajaran di sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Manajemen pembelajaran oleh guru, dengan partisipasi staf adminis trasi, pimpinan sekolah, siswa, orantua/ masyarakat, institusi terkait

Tema pembelajaran 1,2, ……

SD

Pembelajaran integrative, dan interaktif antar bidang studi

SMP

Pembelajaran bidang studi dan tugas interaktif lintas bidang studi berbasis tema

SMA

Pembelajaran konsep-konsep dalam bidang studi, integrasi konsep-konteks dalam bidang srtudi dan lintas bidang studi, tugas tematik lintas bidang studi

 

Pelaksanaan tugas tematik di luar kelas: observasi, diskusi, membaca, menulis, internet, menulis lapor an terkait tugas tematik, diskusi lintas kelompok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peran guru sebagai pengarah & fasilitator. Narasumber lainnya: orangtua, tokoh masyarakat, anggota masy dengan pendidikan lebih tinggi, staf institusi

Kel-A

 

Kel-B

Wakil siswa SD

Wakil siswa SMP

Wakil siswa SMA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan berwarna merah adalah komponen-komponen yang terlibat dalam: rancangan, implementasi (monitoring dan pengendalian) dan evaluasi tugas tematik lintas jenjang pendidikan

                    Pemberian tugas dan arahan kegiatan kelompok

                    Umpan balik pelaksanaan tugas tematik untuk pembelajaran di sekolah

mathematical modelling and analysis of diurnal microclimate variables

10 Mar

ANALISIS DAN PEMODELAN MATEMATIK DATA VARIABEL IKLIM MIKRO

(variabel : suhu udara, kelembaban udara, intensitas radiasi, suhu air/tanah)

Chris Medellu telah membuat software khusus pemodelan dan analisis data iklim mikro harian dengan luaran meliputi:

    1. TAMPILKAN DATA PENGUKURAN

    2. KOEFISIEN FOURIER FUNGSI MODEL

    3. SIMPANGAN DATA MODEL DAN GRAFIK FUNGSI TEMPORAL (FUNGSI FOURIER)

    4. DATA HASIL SINKRONISASI (BASIS WAKTU)DAN FAKTOR KOREKSI

    5. SEBARAN SPASIAL DATA HASIL SINKRONISASI

    6. KONSTANTA & KOEFISIEN FUNGSI SPASIAL

    7. BIAS PREDIKSI UNTUK POSISI 32 meter dan 64 meter dari tepi

    8. GRAFIK FUNGSI SPASIAL (TEPI – INTERIOR EKOSISTEM)

    9. NILAI GRADIEN TEPI (ACUAN DAN MODEL)

    10. KEDALAMAN EFEK TEPI

    11. KOEFISIEN FUNGSI DINAMIKA HARIAN GRADIEN (FUNGSI FOURIER)

    12. GRAFIK FUNGSI DINAMIKA HARIAN GRADIEN

    13. LUAS BIDANG DAN INDEKS DINAMIKA HARIAN GRADIEN

    14. SIMULASI PENGARUH ANGIN

    15. SIMULASI PERGERAKAN BIOTA

Format data untuk dimodelkan dan dianalisis berbentuk:

                Variabel:                                                                            transek:

Posisi se panjang transek

Data (variabel…) menurut waktu pengukuran

06.00

07.00

 

ti

 

 

06.00

-   4 m

 

 

 

 

 

 

 

-   2 m

 

 

 

 

 

 

 

0

 

 

 

 

 

 

 

1 m

 

 

 

 

 

 

 

2 m

 

 

 

 

 

 

 

4 m

 

 

 

 

 

 

 

8 m

 

 

 

 

 

 

 

16 m

 

 

 

 

 

 

 

32 m

 

 

 

 

 

 

 

64 m*

 

 

 

 

 

 

 

(posisi sepanjang transek dapat diubah)

Program dapat juga digunakan untuk data (variabel lain) hasil pengukuran bulanan atau tahunan dengan pola variasi temporal berbentuk sinusoidal.

Biaya pemodelan dan analisis bergantung banyaknya data/variabel dan luaran yang diinginkan

Hub alamat e-mail: chrismedellu@yahoo.co.id  phone number: 08124407375

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.